DI LAUTAN PASIR BERBISIK BROMO, WAJIB MAKAN BAKSONYA!



Dari sunrise point Penanjakan, perjalanan berlanjut ke Pasir Berbisik yang membutuhkan waktu hampir dua jam. Perjalanannya tentunya terhambat karena macet, kalau berdasarkan analisaku pribadi, Penanjakan tempat paling atas di antara sunrise point yang lain, di mana rombongan jeep yang di bawah juga akan melanjutkan perjalanan ke tempat lain mulai dari putar balik, bahkan ada yang naik juga, sedangkan jalan begitu sempit. Jadi ini mempengaruhi laju yang dari atas ke bawah untuk mengalah.  

Dari penantian itu, lalu lalang motor menawarkan jasa untuk pengantaran ke kamar mandi, dan ini lebih dominan perempuan. Jangan tanya kalau cowok, udah pasti jalan ke luar ke arah perbukitan yang sekiranya tidak terlihat orang-orang. Ada juga ibu-ibu yang keliling menawarkan segelas kopi atau teh yang bisa langsung diseduh, dengan membawa beberapa termos. Memang cuaca dingin sekali, padahal sudah memasuki pukul delapan pagi. Masih ingat saja, celetuk sopir “ dingin ya, kayak di gunung” aku dan lainnya hanya tersenyum. Memang Bromo lain dari gunung lainnya, naik gunung ditempuh menggunakan jeepWkwkw 

Sebenarnya dalam penantian yang lama, rasanya pengin keluar untuk jalan-jalan atau mengambil foto karena memang keindahan kemarin itu benar-benar luarbiasaTapi dalam jeep saja sudah merasa cukup, menghemat tenaga untuk aktivitas selanjutnya, selain itu juga sedang lapar. Kalau ditanya, kenapa tidak makan? Akh, walaupun liburan, aku masih harus menjaga berat badanku, di Pasisir Berbisik katanya harus banget untuk makan baksonya. Jadi sebisa mungkin aku harus menahan untuk tidak makan dulu.  

Jeep hanya berjalan meter demi meter dan terkadang bisa belasan meter, bisa dibayangkan kesabaran dari sopir-sopirnya. Setiap hari harus bersabar dengan antrean, tidak ada salip menyalip antar jeep. Bahkan saling membantu ketika ada yang bermasalah.  

Tidak banyak cerita, dari kami hanyut dalam pikiran masing-masing, satu dari kami sedang sedikit merasa sakit, yang lainnya mencoba untuk tidur. Sedangkan aku, saat itu benar-benar sedang berusaha untuk melupakan hal yang tidak penting. Melihat ciptaan Allah saat perjalanan memberikan kekuatan bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Bagaimana tidak? Lihat saja tebing-tebing begitu kokoh, dengan tekstur terlihat sempurna, hijau menawan memanjakkan mata. Dikit demi sedikit terbuka dari perjalanan atas ke bawah. Bahkan pohon-pohon di pinggir jalan menambah keindahan.  

Akh, akhirnya sampai juga ke lautan Kaldera. Lautan pasir yang terbentuk dari ledakan dasyat puluhan ribuan lalu membentuk mahakarya yang tiada tanding. Dan masa suram kala itu tergantikan dengan kebahagiaan sekarang, banyak pedagang berbagai jenis makanan yang menjajakan dagangannya, mulai dari sate, bakso, aneka minuman dingin, souvenir, dan lainnya. Dan turut menikmati pula kami untuk meperlancar usaha mereka wkwkw, kami memilih makan bakso. 

Bakso yang dijajakan salah satunya bakso Malang, dengan isian bakso dan ada juga tahu baksonya. Kuahnya bisa memilih banyak dan sambalnya merah merona pedasnya. Untuk harga satu mangkok dua puluh ribu rupiah. Di tengah perut kosong dari tengah pagi, bakso seperti penyelamat yang sudah dinantikan. Hanya saja, kami harus berhati-hati saat makan, angin yang datang membawa butiran-butiran pasir halus yang mungkin saja masuk ke mangkok tanpa disadari. Atau masuk dalam mulut saat bicara. Haha 

Kami menikmati bakso dengan melihat orang-orang beralulalang, sibuk dengan obrolan makan bakso juga, ada yang selfie, oh ya pemandangan jeep yang keluar masuk dengan warna-warna yang mencolok begitu menyenangkan untuk dipandang.  

Akh, inginku ulang lagi datang ke sini, tapi sangat berharap bersama pasangan sah tahun depan. Aamiin  

26 Desember 2025 



Comments

Popular posts from this blog

Guru Gatra, Guru Wilangan lan Guru lagu tembang-tembang macapat

IMPLIKASI UNDANG-UNDANG GURU DAN DOSEN NO 14 TAHUN 2005

Keping Kayu bisa Tukar Aneka Makanan Khas Kebumen di Pasar Jaten