SUNRISE POINT PENANJAKAN DAN TEMPAT TERSEMBUNYI DI BROMO
Perjalanan dimulai pukul 02.00 dari Hotel Bengawan Express dijemput menggunakan jeep, sebelum perjalanan tentunya kami sudah persiapan dengan jaket tebal karena suhu di Bromo bisa mencapai kurang dari 12 derajat celcius. Selain itu yang tidak kalah penting itu, sudah buang hajat ya, perjalanan ke Bromo dengan cuaca yang dingin dan tentunya padat merayap kalau belum sampai ke area sunrise, mana mungkin untuk ke kamar mandi. Bisa jadi harus memberhentikan jeep dan keluar ke semak-semak, wkwk.
Berdasarkan dari informasi ada tiga jalur untuk menuju ke Bromo yaitu Probolinggo (Cemoro Lawang), Malang (Tumpang), dan Pasuruan (Wonokitri). Kami menggunakan jalur dari Probolinggo dan berdasarkan obrolan dari teman dan tourguide Probolinggo jalur lebih cepat dan tidak terlalu ramai.
Butuh waktu sekitar 2,5 jam untuk sampai ke Penanjakan, ini merupakan tempat sunrise point yang paling tinggi di antara yang lain yaitu 2.770 mdpl. Perjalanan yang lumayan bukan? Ini bukan karena jalurnya yang panjang, tapi faktor dari kemacetan yang paling utama sih. Celetukan dari orang-orang, “ di gunung saja bisa macet”
Turun dari jeep ada jalan sebentar untuk masuk ke area Bukit Penanjakannya, tapi kami mampir sebentar ke warung untuk solat subuh dahulu. Di sini tersedia kamar mandi dan tempat solat. Oh ya, kamar mandi di sini lima ribu rupiah ya, untuk sekali masuk. Informasi ini penting banget, untuk pengeluaran tak terduga wkwkw. Sembari istirahat kami pesan pisang goreng dan minuman hangat, oh ya aku sewa jaket ala-ala Korea yang lucu-lucu. Banyak penyewaan jaket dengan model dan warna yang bisa dipilih, selain itu harganya juga bervariasi. Kalau aku sewa 30 ribu. Jaketnya tebal, menghangatkan dan paling penting tidak kelihatan gendut. He
Lanjut, menuju ke tempat nonton matahari terbitnya, perjalanannnya lumayan menanjak tapi tenang semua sudah di aspal, tidak ada adegan terpeleset atau licin. Udara yang dingin dan posisi nanjak membuat napas tersengal-sengal, dan yah, harap bersabar dan kuat (ini lebay).
Berbentuk tribun setengah lingkaran mengarah ke pertujukkan alam yang megah, ciptaan Tuhan yang tiada tanding. Orang-orang dari banyak daerah bahkan dari mancanegara datang hanya untuk menyaksikan matahari terbit disusul dengan bentukan sempurnanya kerucut Gunung Batok dan Semeru yang kokoh megah. Perjalanan lama dan menahan dingin terbayarkan sudah. Ramai mengabadikan moment, ada yang berfoto ria dengan sahabat bahkan keluarga ada juga yang cukup menikmati dengan mengamati menit demi menit hingga terlihat sempurna lukisan alam yang tiada tanding.
Saat menikmati dengan tenang tiba-tiba tourguide ngasih tahu kalau ada tempat di sini yang jarang orang tahu. Dan sifatnya rahasia. Akhirnya kami turun ke bawah, dari ke arah kiri terus turun ke bawah melewati jalan dengan tekstur tanah, seperti perbukitan pada umumnya. Cukup 5 menit saja sampai ke sabana, dan pemandangan ini seperti sabana di Gunung Merbabu atau Gunung Lawu. Itu yang aku tahu ya, karena baru dua gunung yang aku daki, hehe. Dan benar saja, di sini banyak spot menikmati Bromo dengan view yang berbeda. Mulai dari dengan ilalang, pohon dengan ranting kering, dan dedaunnya.
Tiba-tiba, aku di tempat ini pengin berpuisi asal dan asal saja.
Berkali-kali mereka mengatakan: untuk apa lagi?
Saat itu juga aku menyadari, berlalu
Tapi, tak bisa aku pungkiri bayangan samar kembali hadir, mengingatkan
Usaha penuh untuk menepis, hadir kembali
Bagaimana aku bisa lupa, disaat sudah kuterima sepenuh hati
Menyebalkan
Bromo pagi ini indah sekali, seolah turut menasehati
Keindahan tidak hanya diciptakan satu objek saja
Lihatlah aku begitu luas
Terima kasih jika puisi turut dibaca.
KALDERA TENGGER RAKSASA
Kaldera Tengger Raksasa merupakan sebutan dari Pegunungan Tengger yang di dalamnya Gunung Bromo, Gunung Batok, dan Gunung Semeru yang semuanya masih masih aktif. Kaldera Tengger terbentuk dari letusan dasyat Gunung Tengger purba sekitar 40.000 tahun yang lalu, yang sebelumnya tercatat tingginya 4.000 mdpl. Dari latusan itu menghancurkan puncaknya, dan membentuk kaldera luas yang kini disebut sebagai lautan pasir. Dan dari letusan itu muncul gunung-gunung itu yang terlihat dari sunrise point Penanjakan.
Lautan awan yang berserakan tak beraturan, menambah kemawahan lukisan alam Bromo. Ketika matahari semakin naik ke atas untuk melanjutkan janji tiap harinya pada dunia, dan terasa sedikit sentuhan hangat mulai membelai kulit, namun begitu udara Bromo masih terasa dinginnya. Di saat itu, pemandangan berganti, birunya langit membentang cerah, Kaldera Tengger seakan mengubah rupanya semakin gagah.
Pada saat perjalanan untuk menuju ke Pasir Berbisik, kembali membuat kagum tiada henti. Baru saja terlihat hitam begitu gagahnya, saat ini tiba-tiba terlihat jelas warna-warna dari dinding-dinding kaldera yang menjulang itu, hijau dan makin gagah layaknya dinding purba yang menjaga rahasia bumi puluhan ribu tahun lamanya. Gradasi warna hijau begitu memanjakkan mata, di balik kaca jeep ucapan decak kagum tiada henti.
Kami melanjutkan lagi, perjalanan menuju Pasir Berbisik
26 Desember 2026





Comments
Post a Comment