Kereta

Berulang kali Rita menekan tombol berwarna hijaunamun mesin di hadapannya seolah membisu, enggan mengeluarkan karcis dari mulutnya yang dinantikan sejak belasan detik yang berlaluDari cerobong besi suara mesin mekanis terus menggaung tanpa ampun — “ Tekan tombol hijau untuk mendapatkan karcis...” — kalimat yang terus berulang selain membuat malu juga memacu detak jantungnya jauh lebih kencang.  

Bayangan kereta melaju kencang tanpa sabar menunggunya terus terbayang-bayang di pikirannya. Ketakutan akan keterlambatan mulai menggerogoti ketenangannya; keringat dingin merembes di tengkuk, firasat buruk terus mengusai benaknya.  

Suara klakson dari belakang menyadarkan. Rita menoleh, dua pengendara motor telah mengantre. Meski wajah mereka tersembunyi di balik kaca helm yang gelap, aura kekesalan terpancar nyata dari gestur yang tegang dan protes membisu atas waktu yang terbuang.  

Rita menarik napas dalam, membisikkan pada jiwanya sendiri, mengumpulkan butir-butir ketenangan yang sempat tercerai-berai"Tenang, Rit. Kau sudah sampai. Kereta itu masih menunggumu di sana," gumamnya.  

Dengan satu gerakan jemari yang kini lebih mantap, ia menekan tombol hijau. Kali ini, mesin itu menyerah. Selembar karcis putih—catatan bisu tentang waktu dan kehadirannya—terjulur keluar. Bersamaan dengan itu, palang besi terangkat perlahan, seolah-olah sebuah gerbang takdir baru saja terbuka lebar untuknya. 

Butir-butir kesabaran Rita masih bertahan sedikit, tapi baginya posisi parkir motornya yang rada miring tak menjadi soal baginya, nantinya ada petugas yang dengan sabar membetulkan posisi motor-motor sesuai dengan garis-garis penanda, bahkan merapatkan yang terlalu renggang untuk memaksimalkan ruang untuk motor lain. Baginya yang penting karcis harus dimasukkan ke dalam jok. Sudah dua kali kejadian kehilangan karcis selembar itu harus merogoh pembayaran denda yang baginya uang itu bisa untuk membeli lumpia kejunya Gacoan, salah satu makanan kesukaannya. Kunci telah dicabut dan lari untuk agar tidak tertinggalSebelum melangkahkan kakinya semakin jauh, ia memastikan lagi motornya, “ dan benar, posisinya miring sekali, tapi maaf.....,” katanya lirih 

Rita, melangkah dengan ritme yang terukurbahkan seperti terdapat navigasi dalam langkahnya hingga tetap tegak di tengah arus manusia tanpa sekali tersandung. Kedua matanya fokus adil: satu memantau langkahnya berada pada pijakan yang pasti, dan di sisi lain terpaku pada layar ponsel, memastikan sudah e-boardingMenurutnya, semua itu sudah terlatih sebab ia terbiasa dengan dua atau lebih perkerjaan yang dilakukan bersamaan. 

Tatapan mata bertemu kamera dan layar menampilkan wajahnya yang penuh guratan kecemasan, pintu terbuka, dan dunia lama penuh antrean KTP atau scan barcode seketika runtuh. Canggih sekali sekarang, namun begitu waktu tidak ikut melambat. Sisa waktu hanya dua menit, Rita berlari mengejar pintu yang masih terbuka untuknya. Tas di bahu dan yang menyamping ikut bergoyang mengikuti irama jantung yang berdegup. Sekuat tenaga yang tersisa, pijakan demi pijakan sampai juga menapakkan kakinya di lantai gerbong.  

Sabar Rit, sebentar lagi,” katanya semakin lirih. Ia melangkah membelah gerbong demi gerbong, panjang perjalanan, untuk menuju tempatnya yang mungkin sudah mendingin, kosong tanpa penghuni. Di kiri dan kanannya, melihat orang-orang yang tenggelam dalam cahaya gawai, dan beberapa yang lainnya larut dalam renyah tawa bersama keluarga. Rita mempercepat langkah kakinya, memburu kursinya untuk segera membaringkan kantuk yang sudah di ujung mata.  

Di sana sudah ada dua perempuan, wanita berusia enam puluhan dan bersanding gadis terlihat seperti anaknya. Kursi kereta ekonomi, memilih yang berhadapan masing-masing dua orang. Tempatnya bukan di samping jendela, tapi ternyata belum ada tuannya. Kantuknya semakin memberat dan tak kuat untuk menahannya.  

Permisi bumba, ada orangnya?” tanya Rita dengan ramah walaupun lamat-lamat mata semakin tidak karuan kantuknya 

Dipakai aja mba, orangnya lama di kantin tuh,” jawab gadis 

Terima kasih ya mba, ini saya tak pakai dulu soalnya ngantuk banget, kalau nanti ada orangnya dan minta pindah dan mbaknya pas lagi nggak tidur tolong sampaikan untuk membangunkan saya ya mba,” ucap Rita menjelaskan.  

Santai aja mba, itu kakakku kok.” Sahutnya dengan senyum  

Terima kasih ya mba.”  

Mata wanita itu terus memandang Rita, tatapannya sulit diartikan namun ada kehangatan tak terucap seolah ingin menyapa namun raguSebagai penawar rasa canggung di antara mereka, sebelum Rita tenggelam dalam samudera mimpinya, mencoba memulai dengan kalimat pembuka yang ada di pikirannya.  

Turun mana, bu?”  

“ Turun Probolinggo, kamu mana mba?”  

Wah sama, saya Probolinggo juga,”  

Sepertinya, mbaknya ngantuk banget ya, tidur aja mba,”  

Nggih bungantuk banget kulomonggo bu,” jawab Rita lirih, sebuah jawaban pamungkas yang menandai menyerahnya kesadaran pada rasa kantuk paripurna. Ia menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, mencari titik nyaman. Seketika pula, dunia di sekelilingnya memudar, suara tawa penumpang, deru mesin, tatapan wanita itu melebur menjadi sunyi. Ia tak lagi mengingat apa pun, dirinya sudah jatuh ke dalam pelukan tidur, sementara kereta terus melaju menembus ruang dan waktu.  

Di kesadaran yang masih menipis, suara-suara di sekitarnya menjadi gumam yang lamu-lamut terdengar sedikit samar. Rita mendengarnya, namun tak mampu menjangkau maksud dari percakapan mereka.  

Cocok loh, minta nomornya aja mas..”  

Tawa gadis memecahkan sunyi tidurnya, disusul suara wanita yang penuh penekanan,” nggak papa cocok, ndang bae.”  

Sedikit-demi sedikit Rita mengumpulkan kesadarannya, namun rasa nyaman tidurnya seperti menolak untuk membuka mata. Baru kali ini ia merasa nyaman tidur di kereta, yang padahal hanya bersandar besi keras dan dinginNamun, nuraninya berbisik ada yang ganjil, jendela keras seakan berubah tekstur sesuatu yang hangat dan empuk, bahkan deru mesin kereta seperti tidak langsung terdengar dari getaran besi gerbon atau jendela. Rita memaksa kelopak matanya tersingkap. Dan seketika dunia jungkir balik, menyadari kepalanya bertumpu pada pundak seorang laki-laki yang sengaja memiringkan badannya demi kenyamanannya.  

Di depannya, wanita dan gadisnya telah terlelap. Detak jantungnya berdegup kencang, ia menarik diri dan merapat ke jendela seolah ingin melebur dan menghilang dari pandangan laki-laki itu. Laki-laki itu menegakkan duduknya, bantal di leher yang telah menjadi sandarannya masih setia melingkar di sana, sebuah suara rendah memecah sunyi, dan membuat Rita terpaku. 

“ Ngantuk banget ya? Kecapean atau gimana? 

Laki-laki tersenyum tanpa beban. Tapi Rita tidak bisa, dia hanya terdiam dan seperti melakukan sebuah kesalahan. Berpikir kenapa laki-laki ini tiba-tiba berada di sampingnya. Tidak berkata apa-apa dan berpikir cepat untuk pergi Dengan cepat ia bangkit dari duduknya, dan berusaha melangkah tanpa suara agar wanita dan gadis itu tidak terbangun, dan laki-laki itu terkaget 

Mau ke mana? Ini masih 1 jam lagi” 

Rita berdiri mematung, menatap tasnya yang bertengger angkuh, seolah mengejek keterbatasan fisiknya. Berjinjit dengan posisi masih menghindar laki-laki itu, namun hanya mampu menyentuh udara kosong. Sadar tak mampu mengambil, Rita memutuskan untuk mengabaikannya dan mengambilnya saat sudah sampai tujuan, demi harga dirinya tetap utuh tanpa meminta bantuannya.  

Dengan satu gerakan tenang yang seolah tanpa memerlukan usaha, laki-laki itu mengambil tas miliknya. Rita berusaha menepis ingatannya kembali, ia begitu menyukai laki-laki di hadapannya yang begitu tenang saat mengerjakan sesuatu, berbeda dengan dirinya yang selalu terburu-buru dalam melakukan apa pun. Tapi itu sudah berlalu, kini asing untuknya.  

“ Aku lapar, mau ke gerbong restorasi, “ jawab Rita singkat, dan menggaet tas miliknya.  

Rita memacu langkahnya, dan berusaha berjalan mengabaikan semua ekspresi atau menunggu kata-kata dari laki-laki itu. Baginya, keheningan adalah perisai paling aman. Ia melangkah masuk, menelusuri dua gerbong dengan hati-hati. Ia agak oleng karena masih belum sepenuhnya menuntaskan tidurnya, sementara laju kereta yang cepat membuat jalannya tidak seimbang, seolah besi tua ini sedang berusaha melemparnya keluar dari lintasan waktu. 

Di tengah riuh suara rel yang beradu, pikirannya tiba-tiba mengingat kembali rasa sakit enam bulan lalu. Sebuah luka lama merayap naik, dingin dan tajam. Ia teringat pada sebuah pesan teks tanpa empati secara cepat dia terima di suatu sore yang kelabu. 

Meski layar ponselnya kini bersih dan semua sudah Rita hapus tanpa jejak sedikit pun, ingatan itu rupanya memiliki kakinya sendiri. Ia kembali mengingat teks yang laki-laki itu kirim. 

Kita sudah tidak cocok lagi, banyak hal yang ternyata yang tidak bisa aku tolerir lagi karena perbedaan. Berkali-kali untuk meyakinkan diri untuk bersama tapi ternyata seberat ini ya. Daripada kita berlanjut ke depannya, malah jadi sesuatu yang menyakitkan, dan aku tidak mau. Semoga kamu segera menemukan pengganti yang lebih baik daripada aku ya,  

Dengan sedikit mata memerah Rita membalas dengan tabah dan penuh keyakinan  

Oke baik, tidak apa-apa  

Jangan menangis ya,  

Untuk apa aku menangis 

Tetap jadi teman ya 

Aman  

Selang beberapa waktu dari pesan itu, Rita mengingat kembali masa-masa bersama dengannya, begitu indah. Ucapan selamat pagi, siang, hingga malam tidak pernah terlupakan. Sapaan sayang yang membuat hati berbunga-bunga tidak pernah tertinggal. Berbagi bercerita tentang masa lalu, dan harapan di masa depan, bahkan rancangan konsep pernikahan pun sudah tersusun begitu rapi. Tinggal berbicara dengan kedua orang tua, untuk ke jenjang yang lebih serius lagi. Bahkan Rita pun masih teringat betul pesan terakhirnya, sebelum ucapan putus itu dilontarkan laki-laki itu. 

Aku ingin menikah tanpa cerai, dan selalu bersama walaupun ada masalah 

Lelaki itu mengiyakan dan berjanji, tapi selang hanya dua hari saja, pesan menyakitkan itu dikirim.  

Rita butuh hampir 3 minggu menangisi sesuatu hal yang menyebalkan baginya, sebab seharusnya dia harus tegar seperti biasanyaSaat bersamanya Rita benar-benar tidak mau gagal lagi pada perkenalannya yang sudah ke belasan kali dan di usianya yang tidak muda lagi. Sebab itu dia menangis begitu lama dan menyakitkan di hatinya.  

Tanpa sadar, air mata sudah jatuh di pipinya, mengusap pun seperti tidak mampu lagi.  

Pesan apa kak?” suara prami menyadarkan Rika. Langkah kakinya benar-benar seperti terlatih mengantarkan ke tempat tujuan walaupun pikirannya sedang kacau balau.  

Ia berusaha mengumpulkan serpihan ketenangannya yang tercerai-berai, Ah, segelas coklat panas ya kak, pembayaran pakai QRIS dan saya makan di sini” jawabnya lengkap, agar suaranya tidak parau lagi untuk menahan tangis. Ia butuh kalimat yang utuh untuk menutupi hatinya yang sedang tidak karuan.  

 

Menunggu hampir satu jam dalam kesendirian di meja kantin kereta sudah menjadi pilihan tepat. Di sana, di antara aroma kopi atau coklat yang menguar serta suara deru mesin kereta yang konstan menciptakan suasana baru baginya. Rita tidak mencoba memikirkan laki-laki itu, bayangan sebelumnya yang sempat menghantuinya ia coba buang di luar gerbong yang paling dalam dan gelap. Menatap asap di gelas coklat miliknya yang menari-nari seolah sedang menghiburnya, menyadarkan bahwa baginya perasaan dia saat ini adalah yang lebih penting. Luka enam bulan lalu mungkin masih meninggalkan bekas, namun kenyamanannya adalah prioritas yang tak bisa ditawar. Sesapan coklat seakan sedang memeluk kehangatan untuknya, meski kereta terus melaju menuju ketidakpastian.  

Kereta sampai di Stasiun Probolinggo, dengan segera Rita turun, dengan sadar tengah malam begini belum berkabar ke orang rumah, tapi baginya tidak perlu, sudah biasa dengan pesan Gojek. Tiba-tiba dari belakang ada langkah cepat yang seakan menghampirinya. 

“ Mbambaa,” menyolek pundak Rita  

Eh iya mba, ada apa mba? Apa ada yang ketinggalan” dengan sadar Rita mengingat gadis yang duduk di depannya.  

“Tidak mbamba boleh minta nomor WA nya? Soalnya ibu saya suka sama mbaknya, dan mas aku juga tertarik dengan mba” jawab gadis itu begitu ceria 

Mas yang mana ya?” tanya Rita heran. 

Itu...” menunjuk laki-laki itu bersama wanita itu, mereka senyum memandang Rita, senyum hangat, seperti menyambut kebahagiaan. 

Rita terdiam, mengingat kembali perkataan laki-laki itu, walaupun calon yang menentukan aku, tapi kalau ibuku sudah cocok akan kujadikan istri dengan serius” terlebih menurutnya pernikahan juga harus dilaksanakan, sebab adiknya sudah menemukan calon, dan bagi orang tuanya anak-anak yang dinikahkan harus urut. Ingatan itu disusul dengan perkataannya beberapa waktu lalu saat bersama temannya, “Sit, kalau ada laki-laki yang sudah masuk kriteriaku dan dia minta kenalan, akan aku paksa untuk segera nikahin aku” disambut dengan tawa. Menurut Siti, Rita sedang gila dan bercanda soal masa depan, tapi Rita sangat serius dengan ucapannya itu.  

Bayangan-bayangan itu berserakan dan mulai membentuk sebuah keputusan dari ingatan-ingatannya. Seperti kepingan puzzle yang harus dipaksa terangkai dengan cepat, dari rasa sakit enam bulan lamanya dan janji yang dibuat dirinya sendiri.  

Angin malam menuju pagi tiba-tiba berhembus, dingin sekali, suara orang berlalu-lalang untuk menaiki kereta dan ada juga yang turun, suara roda-roda koper bergelinding cepat mengikuti langkah kaki pemilik, Rita masih mematung memandang laki-laki itu yang kini tangan memegang tangan ibunya, menggenggam dengan pasti seperti sebuah isyarat.  

Tap tap tap .... 

“ Akh, keretanya sudah berangkat, aku telatttt” keluh seorang lelaki dengan frustasi. 

 

 

 

 

 

 

 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Guru Gatra, Guru Wilangan lan Guru lagu tembang-tembang macapat

IMPLIKASI UNDANG-UNDANG GURU DAN DOSEN NO 14 TAHUN 2005

Keping Kayu bisa Tukar Aneka Makanan Khas Kebumen di Pasar Jaten