Bunga (Cerita Pendek)
Bunga
Rita terus memandang gelas jar berisi pasta gigi, pembersih lidah, dan tentu saja nantinya akan ditambah dengan sikat giginya yang sedang ia pakai. Setiap harinya, sudah menjadi ritual memandang jar itu sembari meggosok gigi. Rita mengira-ngira sekitar satu menit. Baginya satu menit cukup juga membersihkan giginya sampai ke sela-sela bagian dalam, sesekali menggunakan teknik dari atas ke bawah secara berulang, beberapa saat kemudian diganti dengan teknik memutar, dan ditambah menggosok secara vertikal, baginya berbagai cara digunakan agar giginya tetap bersih. Kebersihan gigi sangat penting, mengingat dia tak ingin lagi mengulang cerita masa lalu soal lubang pada giginya yang sakitnya setengah mati.
"Aku antar ke orang pintar yang bisa menyembuhkan gigi bagaimana?" Saran Ida, teman baiknya.
Rita seringkali curhat soal sakit giginya yang tidak kunjung sembuh. Tidak berani ke dokter, waktu itu dipikirannya, ketika datang ke dokter harus mau tidak mau harus bertemu dengan jarum suntik yang runcing. Membayangkannya sudah membuat bulu kuduknya berdiri.
"Seperti apa pemyembuhannya, bisa langsung sembuh gitu?" Telisik Rita yang sedikit kurang percaya.
Ida salah satu anomali dalam hidupnya. Mempercayainya sama saja siap dengan kekonyolan-kekonyolan yang akan terjadi. Tapi kalau soal rekomendasi makanan enak dan murah, sangat dipercaya. Es buah dengan porsi banyak dan cocok untuk kantong pelajar, salah satu rekomendasi makanan yang perlu diacungi jempol. Dua kalau bisa. Sebab, kesembuhan adalah harapannya, Rita berjanji dalam hatinya, kali ini saja untuk mempercayainya.
Sampai di tempat orang pintar, disambut dengan hangat oleh bapak yang sudah berumur enam puluhan. Batin Rita sudah pasti orang pintar yang Ida maksud. " Duduk sini nduk," perintah bapak itu. Rita duduk pasrah di kursi menyerupai angka empat terbalik, hanya ada sandaran tak ada penopang untuk kedua tangannya. Matanya sedikit perih, dengan harus melawan cahaya di depannya, pintu terbuka lebar seperti mempersilakan cahaya matahari memenuhi ruangan. Rita memaklumi, usianya yang sudah senja sinar yang dipersilakan membantu bapak itu untuk menerawang gigi Rita dengan detail. Demi kesembuhan, ia tak mempermasalahkannya.
Tak menunggu lama, bapak itu membawa tatakan gelas dari tanah liat yang terlihat sangat terawat, di atasnya terbaring tiga helai daun hijau. Rita tak sempat untuk menduga-duga jenis dari daun apa, tapi keyakinannya bapak itu memetiknya di pekarangan rumahnya. Tidak hanya itu, perhatiannya teralihkan dengan tangan lain yang membawa mug dari tanah liat. Mug itu tampak bersahaja dengan permukaan yang kecoklatan itu memberikan kesan penuh sejarah panjang untuk pengobatan alternatif.
" Dibuka mulutnya, " perintah bapak itu, dan Rita membuka mulutnya. Terasa air mengalir di pipinya, dan usapan dengan daun berulang kali mengusap pipinya. Rasa dingin dan seger mengguyur lubang giginya yang bolong. Tiba-tiba teriakan Ida menyadarkannya. "Ihhhh, ada ulatnyaaaaa" bola mata Rita membelalak, pupil matanaya melebar, menangkap sebuah detail yang tak pernah ia duga sebelumnya: dua ekor ulat. Hanya dengan di mengusapkan pada pipinya, ulat yang ada di lubang giginya keluar? Seperti tidak yakin, tapi wujud aslinya nyata. Menurut bapak itu, ulat itu sudah bersemayam di lubang gigi Rita dengan ularnya dikeluarkan bisa sembuh segera. Rita mengangguk dengan meyakinkan diri, di sisi lain Ida tampak senyum puas.
Tapi di sela gosokan giginya, Rita bukan mengingat soal sakit gigi yang pernah dialaminya. Hampir satu bulan melihat jar itu bersemayam di kamar mandi. Rita teringat bagaimana benda kaca itu pernah menduduki tahta tertinggi di kamarnya. Bukan sekadang wadah, tapi penumbuh kasih sayang yang diletakkan di atas meja belajarnya. Perpaduan bening kaca, air tenang dan warna warni bunga di dalamnya, di atas warna meja coklat menciptakan harmoni dan ketenangan, meredam rasa resah dan rindu.
***
" Sejak kapan kamu menyukai bunga?" Tanya Intan memecahkan keheningan dan terpaku matanya melihat penjual bunga di depan mereka. Intan tidak tahu, kalau Rita pernah menerima bunga dari seseorang, yang Intan tahu Rita sangat abai dengan segala keromantisan yang bisa tercipta dari bunga. Kejadian beberapa tahun lalu, menjadi penanda bagi Intan. " Bunga bisa menyembuhkan luka patah hati? Kok bisa?" Rita dengan culasnya. Intan yang saat itu sedang diliputi lara, malas mengutarakan semuanya hanya cukup dengan, " kamu bakal ngerti kalau merasakannya sendiri." Rita menimpali dengan ceritanya yang pernah mendapatkan sepelukan bunga krisan dari petaninya langsung. "Bahkan dua pelukan, deh sama si Rinta, sebelumnya malah diminta makan dulu sama petani, katanya kelihatan capek dan lelah. Tapi emang waktu itu lapar banget." Dengan membara Rita bercerita kenangan itu.
"Rit, ini bukan soal bunga saja. Tapi soal hati, bunga itu menyenangkan saat diberikan orang yang spesial di hati. Tapi bunga lain yang kita beli sendiri dengan perpaduan warna yang berbeda dari yang pernah dikasih akan menyembuhkan luka itu. Makanya aku beli warna lain. Saat patah hati seperti ini, aku ingin melupakan tentangnya." Jelas Intan dengan sabarnya menjelaskan.
***
Kini Rita tahu, bunga memiliki makna yang nyata, salah satunya dukungan, terlebih dari orang terkasih. Pernah juga dalam perjalanan asmara itu, sekuntum bunga pernah sekali menyembuhkan keretakan yang dialami. “ Bunga yang tersimpan di sini masih aku jaga. Tidakkah cukup untuk membuatmu tetap menetap?”
Tapi, setelah satu persatu kelopak bunga layu dan gugur, hingga tak segar lagi seperti sedia kala dan berakhir di tempat sampah, berakhir pula seluruh cerita. Membuang bunganya, sekaligus mengubur kisahnya. Sejak saat itu, tidak ada lagi bunga, apalagi sekadar rindu yang tertinggal.
Comments
Post a Comment