Resah Penantian Jodoh

 


Bising kendaraan di luar pagar masuk pada setiap celah bangunan kamar ukuran 3*4 meter, tidak terlalu mengganggu karena terbiasa atau memang sudah menjadi suatu keharusan agar kamar ini tidak begitu hening. Ah kamar, ruang hati juga begitu hening. Bahkan saking heningnya, hampir setiap malam aku gulirkan video-video pada Instagram, mencari sesuatu yang lucu dan menarik. Kadang membuatku tertawa, berpikir, terpikat, dan ini yang sedang aku coba untuk menangis. Bekerja selama 9 jam pun tidak merasa lelah, karena aku merasa sebagai pelampiasan perasaan resah untuk terus beraktivitas. 

Tapi tidak semudah itu, aku meyakini bahwa setiap orang yang memandangku akan bertanya, umur berapa? Sudah menikah atau sudah punya pacar? Kenapa sampai sekarang belum juga menikah? Semua itu aku tepiskan dengan pembawaanku untuk selalu ceria, tertawa dan mencoba untuk berisik. Padahal dalam hati, sulit untuk dijabarkan. 

      " Aku ingin menikah di usia mentok 27 tahun, karena 25 tahun saja udah ketuaan kalau di sini, jadi tanya-tanya ke orang tua baiknya bagaimana. Ada yang menyarankan datang ke kepunden, ada yang menyarankan solat .... " suara ini tidak terdengar jelas karena berbaur dengan suara pintu terbuka ".... kalau menurut aku baik tak jalani, nah ketemu sama istriku yang sekarang satu minggu kenal langsung lamaran...." Begitulah kalimat yang di dengar dari karyawan saat menghadap HRD untuk meminta izin. Saat itu, aku mencoba untuk mengalihkan ke yang lainnya agar tidak menjadikan overthinking walaupun begitu terdengar begitu jelas. Pikiran ini tiba-tiba muncul, apakah dia sedang menyindir aku ya? 

        Keresahan tentang jodoh sudah mulai terasa saat sekarang, di usiaku 28 tahun lebih ini,  sudah tua banget rasanya. Melihat teman-teman menggendong anak, bercerita tentang promil nya, keresahan perlu menambah anak lagi atau tidak, sudah berdengung luarbiasa. Kekhawatiran ditambah lagi tinggal hitungan teman yang masih jomblo. 

 

       “Main ke sini yuk...." tiba-tiba pesan masuk. Kalau dapat pesan kayak gini rasanya langsung tenang aja. Kamu tahu kan kenapa? Sebab masih ada yang senasib denganku. Kalau ditanya, apa yang dibahas dari pertemuan yang masih sama-sama jomblo dan senasib? Jelas tentang kekhawatiran. Kami lebih asyik untuk mengobrol masalah kami sendiri daripada orang lain. Di sini kami saling menguatkan dan berbagi tips agar kuat menghadapi gempuran nyinyiran tetangga, orang yang baru menemui kita, dan orang tua yang bertambah tua. Tidak lupa, semua itu terselipkan doa-doa untuk diamini bersama. 

       " Ngana pikir aku nggak ada usaha?" Pengin banget nyeletuk ini ke orang-orang yang selalu tanya " kapan nikah?" Tapi nggak sampai. Sekarang ini aku hanya diam dan tersenyum saja untuk menanggapinya, lah mau bagaimana lagi. Malah lebih parahnya aku dikira sudah punya kekasih saat ini, dan ngawurnya aku ya cuma diam saja. Rasanya seperti sudah lelah untuk menjelaskan, kalau aku sedang jomblo dan menginginkan pendamping hidup. Jika terlalu detail tentang keresahan, aku yakin mereka akan lebih banyak mengolok dibandingkan untuk ikut andil mencarikan aku jodoh. 

        Memang kamu nggak ada usaha doa atau apa gitu? Woy lah! Setiap hari aku selalu berdoa pada Allah untuk disegerakan dipertemukan jodohnya. Allah bakalan ngasih kok. Tenang. Aku tidak boleh ragu pada ketetapan Allah jangan sampai aku meragukan itu. Begitulah caraku untuk menguatkan agar selalu tenang dan percaya diri. Tapi manya juga manusia, pasti tetap ada rasa untuk tetap overthinking.  

Comments

Popular posts from this blog

Guru Gatra, Guru Wilangan lan Guru lagu tembang-tembang macapat

Keping Kayu bisa Tukar Aneka Makanan Khas Kebumen di Pasar Jaten

contoh proposal kewirausahaan