Posts

BUDGET LIBURAN KE BROMO VIA SOLO JATENG

Image
Liburan paling menyenangkan, ketika sudah ada dana  yang sudah dikhususkan untuk bersenang-senang. Karena ketika berani untuk main oke, oke  saja kalau diajak liburan sama teman, siap saja den gan pengeluaran yang kadang membuat kantong semakin kering dan merintih.  Untuk itu, perlu banget tahu  gambaran dari orang-orang yang sudah pernah ke sana ya.    Desclimer  ya, liburan kal i ini aku bersama teman-teman yang di mana satu di antara kami itu tinggal di P robolinggo , dan dia bawa mobil. Jadi, sejujurnya untuk biaya  transpo rt  secara keseluruhan tidak tahu secara detail. Jadi aku hitung sesuai dengan pengeluaran  dari kantong aku secara  general .    Mungkin saja, ini bisa jadi gambaran kalau kamu mau berencana ke Bromo ya!    Kali ini aku hanya fokus untuk pengeluaran selama di Bromo, untuk wisata dan keseruannya, di artikel selanjutnya saja ya!    Kereta dari Solo- Surabaya Gubeng    Pe...

Bunga (Cerita Pendek)

  Bunga   Rita terus memandang gelas jar berisi pasta gigi, pembersih lidah, dan tentu saja nantinya akan ditambah dengan sikat giginya yang sedang ia pakai. Setiap harinya, sudah menjadi ritual memandang jar itu sembari meggosok gigi. Rita mengira-ngira sekitar satu menit. Baginya satu menit cukup juga membersihkan giginya sampai ke sela-sela bagian dalam, sesekali menggunakan teknik dari atas ke bawah secara berulang, beberapa saat kemudian diganti dengan teknik memutar, dan ditambah menggosok secara vertikal, baginya berbagai cara digunakan agar giginya tetap bersih. Kebersihan gigi sangat penting, mengingat dia tak ingin lagi mengulang cerita masa lalu soal lubang pada giginya yang sakitnya setengah mati.   "Aku antar ke orang pintar yang bisa menyembuhkan gigi bagaimana?" Saran Ida, teman baiknya.   Rita seringkali curhat soal sakit giginya yang tidak kunjung sembuh. Tidak berani ke dokter, waktu itu dipikirannya, ketika datang ke dokter harus mau...

Kereta (Cerita Pendek)

Berulang kali Rita menekan tombol berwarna hijau ,  namun mesin di hadapannya seolah membisu, enggan mengeluarkan karcis dari mulutnya  yang dinantikan sejak  belasan  detik  yang  ber lalu .  Dari cerobong besi suara  mesin mekanis terus  menggaung tanpa ampun  —   “ Tekan tombol hijau untuk mendapatkan karcis...”  —   kalimat yang terus berulang selain membuat malu juga memacu detak jantungnya jauh lebi h kencang.    Bayangan kereta melaju kencang tanpa sabar menunggunya  terus terbayang-bayang di   pikirannya.  Ketakutan  akan  keterlambatan  mulai mengg erogoti  ketenangannya; keringat dingin merembes di tengkuk , firasat buruk terus mengusai benaknya.    Suara klakson dari belakang menyadarkan. Rita menoleh, dua pengendara motor telah mengantre . M eski wajah mere ka tersembunyi di balik kaca helm yang gelap, aura kekesalan terpancar nyata dari  gestur  ...